CILEGON- BantenOnlineNews.Com
Insiden longsor yang terjadi di lingkungan SMP Negeri 15 Kota Cilegon menyita perhatian publik. Di tengah kekhawatiran orang tua dan masyarakat, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon, Heni Anita Susila, angkat bicara sekaligus meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang.
Heni menegaskan, pembangunan SMPN 15 tidak dilakukan secara serampangan. Lokasi sekolah telah ditetapkan melalui kajian studi kelayakan (feasibility study) yang mempertimbangkan aspek kebutuhan pendidikan, tata ruang, hingga daya dukung lingkungan.
“Semua sudah melalui kajian. Bahkan sejak awal, rencana pendirian SMP ini memang diarahkan untuk melayani anak-anak lulusan SD di kawasan Cupas dan sekitarnya,” kata Heni, Senin, 2 Januari 2026.
Namun rencana awal tersebut harus bergeser. Wilayah Cupas yang semula menjadi lokasi ideal ternyata masuk dalam kawasan hutan lindung dan ruang terbuka hijau (RTH), sehingga secara hukum tidak diperbolehkan untuk pembangunan gedung sekolah.
“Cupas itu salah satu opsi di studi kelayakan. Tapi karena masuk hutan lindung dan RTH, maka tidak bisa dibangun. Akhirnya dipilih lokasi yang sekarang, di kawasan Gerem Kewiste,” jelasnya.
Keberadaan SMPN 15 bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan jawaban atas kebutuhan riil masyarakat. Sekolah ini dibangun untuk menampung lulusan dari SDN Cikuase 2, SDN Gerem 2, dan SDN Gerem 3 yang selama ini kesulitan akses sekolah lanjutan.
“Kalau diarahkan ke SMPN 3 justru terlalu jauh. Yang paling membutuhkan SMP ini adalah anak-anak dari tiga SD itu,” ujar Heni.
Kini, meski tergolong baru, SMPN 15 sudah berfungsi penuh. Enam rombongan belajar telah terisi, terdiri dari dua kelas VII, dua kelas VIII, dan dua kelas IX. Ini menjadi bukti bahwa kehadiran SMPN 15 memang tepat sasaran.
Terkait longsor yang terjadi, Heni menekankan bahwa faktor cuaca ekstrem menjadi pemicu utama. Hujan deras yang mengguyur sejak malam hingga siang membuat debit air meningkat drastis dan melampaui daya tahan tembok penahan tanah (TPT).
“Bencana itu tidak bisa diprediksi. Hujan terus-menerus membuat air terlalu besar, sehingga TPT tidak mampu menahan dan akhirnya terdampak ke area sekolah,” ungkapnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa kejadian ini merupakan kegagalan perencanaan. Menurutnya, fenomena cuaca ekstrem kini menjadi tantangan baru yang harus dihadapi semua sektor, termasuk infrastruktur pendidikan.
Dindikbud Cilegon bergerak cepat. Karena proyek masih berada dalam masa pemeliharaan enam bulan, pihak penyedia wajib melakukan perbaikan tanpa membebani anggaran daerah,dan akan diusahakan bantuan melalui CSR ujar Heni.
Tak hanya itu, masyarakat sekitar ikut bergotong royong membantu penanganan di lapangan. Sinergi ini dinilai penting karena pekerjaan penanganan membutuhkan banyak tenaga dan harus segera diselesaikan.
Di tengah situasi darurat, Dindikbud memastikan hak belajar siswa tidak boleh terganggu. Enam kelas SMPN 15 sementara dialihkan ke SDN Cikuase 2 di Kampung Cupas.
“Kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Siswa SMP masuk siang hari setelah SD selesai. Ini solusi sementara agar anak-anak tetap bisa belajar dengan aman dan nyaman,” kata Heni.
Setelah perbaikan rampung, seluruh siswa akan kembali ke gedung SMPN 15.
Di balik insiden longsor ini, satu pesan kuat disampaikan Pemkot Cilegon melalui Dindikbud: pembangunan pendidikan tidak boleh berhenti.
SMPN 15 bukan sekadar bangunan, tetapi simbol komitmen negara dalam menghadirkan akses pendidikan yang merata, terutama bagi anak-anak di wilayah pinggiran.
“Yang terpenting, keselamatan dan masa depan anak-anak tetap terjaga,” pungkas Heni.
(Red)
