(Kiri-Kanan) Ibu Maryama Husni Ketua Perwakilan Wilayah Banten, Arif Hidayat, Ketua Harian YAICI, Yuli Suparpti Wakil Ketua YAICI dan Perwakilan Daerah Aisyiyah Lebak Banten, pada saat memberikan edukasi.

LEBAK, BON – Ketua Majelis Kesehatan Wilayah Propinsi Banten (PWA Banten), Hj Maryama Husni mengimbau warga Lebak lebih kritis terhadap kandungan susu dalam produk Susu Kental Manis (SKM).

Ia meminta masyarakat lebih dulu teliti membaca kandungan yang tertera di kaleng SKM agar memahami bahwa SKM bukanlah susu, tetapi hanya makanan yang diberi susu.

Perlu diketahui bahwa kandungan gula pada SKM mencapai 45 – 53 persen sehingga apabila anak diberikan SKM maka akan mengalami berbagai penyakit diantaranya gizi buruk, stunting, pengeroposan gigi serta obesitas (over wight).

Ajakan ini disampaikan Maryama kepada Warga Aisyiyah dalam acara Sosialisasi Gerakan Aisyiyah (Grass) di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa, 13 Agustus 2019.

“Saya mengimbau Ibu-ibu khususnya untuk lebih dulu meneliti kandungan nutrisi dalam SKM. Jadi warga seharusnya lebih kritis dan memahami SKM ini produk susu atau hanya makanan yang diberi susu. Bila sudah meneliti dengan teliti saya yakin ibu-ibu tidak lagi memberikan SKM sebagai pengganti susu untuk bayi dan balita,” kata Maryama.

Ia menyampaikan apresiasi kepada YAICI, lembaga yang aktif memberikan edukasi terkait kandungan nutrisi dalam SKM.

“Kerjasama yang dilakukan PP Aisyiyah dengan YAICI sangat membantu kami dalam melakukan sosialisasi kepada warga. Karena dengan adanya penjelasan riset yang dilakukan YAICI di beberapa kota tentang kasus balita meninggal akibat minum SKM bisa memberikan kesadaran kepada warga tentang pentingnya kritis terhadap SKM.” tegas Maryama.

Sebelumnya di acara yang sama, Arif Hidayat, Ketua Harian YAICI menegaskan bahwa kandungan protein dalam SKM hanya satu persen.

“Kandungan gula SKM sangat tinggi yaitu 20 gram persekali saji atau per gelas dengan nilai protein 1 gram, Iebih rendah dari susu. Jadi SKM lebih pantas disebut makanan yang mengandung susu, dan bukan susu,” kata Arif.

Karena itu Arif mengimbau warga Lebak Banten tidak memberikan SKM untuk anak bayi dan balita. Peruntukan SKM hanyalah sebagai bahan tambahan makanan dan minuman atau topping, dan bukan sebagai pengganti susu.

Kerjasama YAICI dengan PP Aisyiyah sebelumnya sudah berlangsung di Jawa Barat, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.

“Ini adalah sinergi untuk negeri. Untuk mengedukasi warga tentang gizi dan kesehatan agar masyarakat Indonesia semakin sehat,” pungkas Arif. (*)