JAKARTA, BON | Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lampung menolak ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi mengenai Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau dengan mempertimbangkan keberlangsungan industri hasil tembakau (IHT) nasional.

“FCTC bagi kami ibarat ranjau yang bisa meledak dan mematikan petani tembakau,” kata Ketua APTI Lampung, Hersan, Kamis, 18 Mei 2017.

Menurutnya, tanaman tembakau di Lampung sangat bervariatif dan bisa dikatakan sangat membantu pemerintah daerah dalam penyerapan tenaga kerja.

“Desakan anti tembakau yang tersekema dengan rapi dengan target agar pemerintah segera menerapkan FCTC, kami miris mendengarnya karena ujung-ujung dari FCTC adalah pengalihan tanaman tembakau atau pembunuhan tanaman tembakau,” ujarnya.

“Bila FCTC di dorong penerapnya di Negara kita, maka di Propinsi Lampung akan terjadi hancurnya ekonomi secara masal lebih lebih petani penggarap lahan tembakau,” sambungnya.

Menurutnya, FCTC lebih cocok diterapkan di Negera yang tidak ada petani tembakauanya atau Negara yang tidak punya lahan dan sangat tidak bijak kalau diterapkan di Indonesia karena negara ini lahan tembakau luas dan bisa menyerap pengangguran untuk dipekerjakan.

Anti tembakau, kata Hersan, jangan beranggapan daerah-daerah lahan tembakau bisa digeneralis bisa ditanami semua jenis tanamam, walaupun Lampung tidak bisa disama ratakan untuk ditanami dengan jenis sembarang tanaman. Karena semua sudah ada kodrat pembagian kecocokan lahan tanaman dari Sang Pencipta.

“Maka saya tegaskan ketika mereka merencanakan untuk mengalihkan tanaman atau membunuh tembakau dengan jalan meloloskan FCTC, itu sama saja mereka melawan kodrat Tuhan. Dan kami sangat menolak FCTC untuk hadir di Negara ini,” kata Hersan. (red)