Warga Lebak, Banten, antusias mengikuti Diskusi Bahaya Konsumsi Susu Kental Manis (SKM) yang diadakan oleh PP Aisyiyah bekejasama dengan YAICI.

LEBAK, BON – Mimin, warga Desa Bojongmenteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, mengaku Susu Kental Manis (SKM) tidak bermanfaat bagi kesehatan puteranya. Ia sudah tidak mau lagi memberikan SKM karena puteranya yang mengonsumsi SKM cenderung rewel dan cengeng.

“Saya memberikan anak saya SKM saat umurnya baru satu setengah tahun,” kata Mimin.

Pilihan ini terpaksa ia lakukan karena saat itu ia sudah tidak bisa memberikan air susu ibu (ASI) kepada sang anak yang bernama Azril.

“ASI saya sudah berhenti,” ujarnya saat ditemui di acara Sosialisasi Gerakan Aisyiyah Sehat (Grass) yang diadakan YAICI bekerjasama dengan Pimpinan Daerah Aisyiyah Lebak, di Kecamatan Ciboleger, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa, 13 Agustus 2019.

Selain itu, pilihannya memberikan SKM karena sang anak tidak mau mengonsumsi susu bubuk.

“Saya sudah coba memberi susu bubuk, tapi anak saya ngga mau,” kata Mimin.

Seperti halnya ibu-ibu lainnya yang khawatir bila tidak memberikan susu kepada anaknya, bu Mimin memilih untuk memberikan SKM.

“Saya terpaksa kasih anak saya SKM. Apalagi harganya juga murah dan mudah didapat di warung-warung,” tutur Ibu berusia 30 tahun ini.

Tetapi apa daya, sejak diberikan susu SKM, sang anak lebih banyak rewel dan cengeng.

“Saya bingung juga kenapa ya jadi rewel dan cengeng begini. Tadinya saya kira kalau minum susu anak saya jadi lebih sehat dan lebih ceria,” katanya.

Akhirnya, setelah melihat tidak ada dampak positif dari susu SKM, bu Mimin pun menghentikan pemberian susu SKM pada anaknya.

“Akhirnya ya sudah. Saya berhenti kasih susu SKM untuk anak saya,” lanjutnya.

Sekarang, setelah mendapat sosialisasi dari PP Aisyiyah Lebak tentang dampak negatif SKM, bu Mimin lega atas keputusannya menghentikan pemberian SKM untuk puteranya.

“Saya lega karena saya sudah tidak memberikan SKM lagi untuk anak saya. Saya sekarang tau bahwa SKM itu kandungan gulanya sangat tinggi, dan kandungan susunya sangat sedikit. Pantas ya anak saya dulu hanya rewel dan cengeng kalau minum SKM,” ujarnya.

Saat ini, Azril sudah berusia 3 tahun, dan ia sudah tidak lagi mengkonsumsi susu.

“Saya berikan minuman apa saja untuk dia. Kalau ayahnya minum kopi ya saya kasih kopi. Kalau kita bikin teh ya saya kasih minum teh. Sebisa mungkin saya tidak mau lagi memberikan SKM untuk anak saya, karena saya sekarang mengerti bahwa SKM itu bukan susu. SKM hanya pelengkap makanan dan bukan pengganti susu,” pungkas Mimin. (*)