kongres-pssi-1

JAKARTA, BON | Kongres Tahunan PSSI berakhir larut malam, namun itu tidak membatalkan niat Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi untuk menggelar tumpengan.

Hal itu ia lakukan usai mengadakan jumpa pers bersama para awak media di Hotel Mercure Ancol, Kamis (10/11) pukul 22.29.

“Eh, ayo semua duduk dulu, kita tumpengan. Jangan pulang dulu!” perintah Edy. Para awak media pun menurut.

Hanya saja, Edy kemudian malah tidak turut makan bersama awak media dalam kesempatan tersebut. Dia langsung meninggalkan lokasi kongres untuk menggelar rapat internal bersama kepengurusan yang baru.

Edy terpilih menjadi Ketua Umum PSSI 2016-2020 setelah mendapatkan 76 suara dalam Kongres Biasa Pemilihan, sementara calon lainnya yaitu Moeldoko meraih 23 suara, dan Eddy Rumpoko satu suara. Tujuh pemegang hak suara menyatakan abstain.

Total 107 anggota PSSI yang memiliki hak suara hadir dalam Kongres Pemilihan tersebut. Berdasarkan peraturan, calon yang telah mendapatkan 50 persen plus satu suara bisa dinyatakan sebagai Ketua Umum terpilih.

Semula ada sembilan calon ketua umum PSSI, namun Tonny Aprilani dan Erwin Aksa mengundurkan diri satu jam sebelum pemilihan dilaksanakan. Satu calon lainnya, Djohar Arifin, tereliminasi dari pencalonan setelah Kongres membatalkan agenda pemutihan sanksi.

Djohar terkena sanksi PSSI karena dianggap membelot karena memalsukan tanda tangan serta mengirimkan email ke FIFA bahwa ia masih sebagai ketua umum yang sah, padahal saat itu La Nyalla Matalitti sudah terpilih sebagai Ketua Umum PSSI yang baru.

Di kepengurusannya, Edy berjanji membawa persepakbolaan Indonesia lebih baik.

“Perhatikan, kemenangan ini baru awal permulaan untuk maju. Kemenangan ini adalah kemenangan di persepakbolaan, kedaulatan sepak bola bola harus ada di tangan rakyat. Inilah yang akan kita atur,” katanya. (red)