JAKARTA, BON – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melalui anak usahanya, PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI) bekerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) melaksanakan nota kesepahaman bersama dalam rangka membangun fasilitas pemanfaatan air laut untuk memproduksi air industri.

Penandatangan kerja sama ini dilakukan di Gedung Krakatau Steel Jakarta yang dilakukan oleh Direktur Utama PT KTI Agus Nizar Vidiansyah dengan Presiden Direktur CAP Erwin Ciputra yang disaksikan oleh Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim bersama jajaran direksi dan manajemen.

Silmy Karim menyatakan, pelaksanaan proyek ini sejalan dengan rencana Pemerintah Republik Indonesia yang tengah gencar melaksanakan pembangunan di bidang infrastruktur dan membuka akses pengembangan industri di seluruh wilayah Indonesia.

“Proyek pemanfaatan air laut ini diharapkan menjadi langkah yang efektif untuk memenuhi kebutuhan air bagi kebutuhan industri khususnya bagi CAP dan industri lain pada umumnya di sekitar kawasan. Ini adalah strategi baru Perseroan untuk mendorong perkembangan bisnis anak usaha yang berpotensi,” ungkap Silmy.

Selain di wilayah kawasan industri Krakatau Steel, PT KTI juga telah berekspansi ke wilayah Gresik dengan memperoleh tender pembangunan dan pengoperasian Sistem Pengolahan Air Minum yang diadakan oleh PDAM Giri Tirta Gresik. Proyek ini akan memiliki kapasitas 1000 liter per second dengan nilai investasi Rp618 M. Bersama dengan PT PP (Persero) Tbk, PT KTI akan membentuk perusahaan baru yakni, PT PP Krakatau Tirta untuk melaksanakan proyek tersebut.

Sementara, Agus Nizar Vidiansyah menyatakan bahwa proyek ini diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan tidak mengalami kendala apa pun.

“Kami pun menghimbau kepada jajaran manajemen agar dapat melaksanakan proyek ini dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian, itikad baik, dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance),” tuturnya.

Vidiansyah mengungkapkan, proyek pengolahan air laut yang akan dilakukan oleh PT KTI dan CAP ini akan menjadi salah satu sarana pengolahan air laut terbesar di Indonesia karena memiliki kapasitas produksi sebesar 800 – 1000 liter per second (lps) dengan valuasi nilai proyek mencapai hampir Rp1,5 triliun.

Adapun proyek ini direncanakan dapat mulai beroperasi pada kuartal 4 di Tahun 2022. Pelaksanaan proyek ini diproyeksikan dapat mereduksi potensi risiko bisnis yang timbul akibat berkurangnya kualitas dan kuantitas air baku yang berasal dari air permukaan.

Sea Water Reverse Osmosis, teknologi yang digunakan dalam proyek pengolahan air laut ini adalah metode penyaringan air laut yang dapat menyaring molekul-molekul besar (misalnya garam dan ion-ion) dari air laut dengan memberi tekanan ketika air laut tersebut berada di salah satu membran penyaring.

Hasil akhir dari proses osmosis terbalik yang dilakukan terhadap air laut adalah air bersih yang tidak lagi mengandung garam, ion-ion seperti kalsium dan mineral, serta bebas bakteri.

Sekilas tentang PT Krakatau Tirta Industri

PT KTI adalah anak usaha PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang bisnis intinya adalah pengolahan air. Kapasitas terpasang saat ini adalah 2500 lps (liter per second) dan menyuplai air industri kepada seluruh industri yang berada di kawasan industri Krakatau Steel, dan perusahaan lainnya serta kebutuhan air di masyarakat sekitar kawasan.

Pelaksanaan proyek ini tentu telah dengan mempertimbangkan kemampuan teknis PT KTI yang meliputi:

  1. Pengalaman dalam operasi dan pemeliharaan instalasi air bersih terhitung sejak tahun 1978 sebagai unit penjernihan air PT Krakatau Steel.
  2. Pengalaman dalam operasi dan pemeliharaan instalasi air industri selain air bersih yang dilaksanakan melalui skema B to B, antara lain plant Water Recycle Plant PT Latinusa, Water Reuse Plant Gedung Wisma Krakatau Steel Jakarta, Water Demin Plant PT MCCI, dan Demineralizer Water Station dan Biotreatment Plant Blast Furnace Complex PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.
  3. Ketersediaan personil yang memiliki kapasitas, kapabilitas, dan pengalaman menangani pengolahan air.

(rls/red)